aksen bahasa Inggris

Aksen itu Penting Nggak, Sih?

Posted by

Beberapa waktu yang lalu, pada saat saya menelusuri Instagram, saya kedapatan sebuah iklan dalam bentuk post yang berisi tentang ajakan untuk mengikuti sebuah kursusan bahasa Inggris, dan tentu saja, banyak orang yang terkesima dengan gaya pengucapan si mbak-mbak yang ala British. Sepertinya, tempat kursusan dimana si mbak itu mengajar menjadi sangat populer karena aksen si mbak yang seolah mirip para pemeran film Harry Potter. Selang beberapa saat kemudian, seorang Youtuber bule yang tinggal di Indonesia, Sacha Stevenson, mem-publish video yang mengkritisi kesalahan bahasa Inggris “bintang iklan” kursus bahasa Inggris, termasuk aksen si mbak-nya. Kata Sacha sih, cara si mbak ngomong nggak kaya native speaker. Kemudian muncullah konflik antara tempat kursusan tersebut dan Sacha, karena Sacha bilang si mbak nggak kayak native speaker. Kemudian, tentu saja sebagai guru bahasa Inggris, saya jadi bertanya-tanya dong. Apakah aksen sebegitu pentingnya? Dan, sebenarnya, penting nggak sih ngomong dengan aksen kaya native speaker yang mBritish atau ngAmerican? Berikut ini saya coba ungkapkan pendapat saya:

Aksen bukan segala-galanya

Banyak sekali pemula yang merasa bahwa saat mereka belajar bahasa Inggris, mereka harus kedengaran kaya native speaker, dan memperasalahkan aksen kedaerahan. Sebenernya nggak apa-apa sih kalau pengin suatu hari nanti bisa kedengeran kaya bule, tapi sepertinya mereka salah paham, dan berharap bahwa yang paling penting adalah bisa kedengeran bule, dan nggak PD ngomong Inggris dengan alasan takut medhok. Padahal, indikator penguasaan bahasa Inggris nggak bisa cuma dilihat dari aksen aja, misalnya saja, pronunciation lebih cocok untuk jadi “indikator penguasaan” untuk pemula. Perlu diketahui, pronunciation adalah pelafalan kata, seberapa tepat kita bisa melafalkan sebuah kata. Misalnya saja, dalam bahasa Inggris, kata “know” dilafalkan tanpa membunyikan “k”. Sementara itu, aksen, meski juga berhubungan dengan pronunciation, lebih berkaitan dengan irama dan intonasi (naik turunnya bunyi), dan seringkali aksen dapat meggambarkan darimana kita berasal. Jadi, bisa saja orang mencoba memiliki aksen native speaker, namun pronunciationnya masih suka salah, dan sebaliknya, orang yang memiliki aksen kedaerahan bisa juga memiliki pronunciation yang relatif baik, sehingga dapat dimengerti banyak orang.

Aksen bisa jadi menguntungkan atau merugikan

Memiliki aksen native speaker dapat membuat kita dikagumi banyak orang, apalagi kalau tata bahasa dan kosakata yang digunakan juga sangat baik. Contohnya saja, Nadiem Makarim, CEO Gojek yang saat ini menjabat sebagai Mendikbud, mampu menggunakan bahasa Inggris dengan aksen native yang hampir sempurna, ditambah dengan pemilihan kata dan struktur kata yang sangat advanced. Alhasil, banyak sekali yang kagum dengan bahasa Inggris beliau. Namun, di sisi lain, aksen bisa juga merugikan, terutama di saat kita mencoba ngomong seolah kaya native speaker alias menirukan aksennya, tapi ternyata kesalahan bahasa Inggris yang mendasar saja masih banyak. Pasti orang yang tahu akan cringe atau menjadikan itu bahan olok-olokan karena kesalahan konyol tersebut.

Aksen Bisa Berubah Seiring Waktu

Berdasarkan pengalaman pribadi dan sedikit riset pribadi, aksen bisa berubah/diubah lho, hehehe. Dulu, bahasa Inggris saya lumayan medok, karena saya tinggal di Jawa dan orang-orang sekitar saya juga ngomongnya mirip-mirip seperti itu. Namun, selepas dari studi S2 di UK, saat saya ngomong bahasa Inggris dengan dosen saya kuliah S1 di Jogja dulu, beliau berkata “Wow, your English is getting better!” dan orang juga bilang hal yang serupa. Padahal kalau dipikir-pikir sih, saya nggak sengaja “mengubah” aksen, karena saya juga nggak ngerasa ngomong ala Harry Potter. Kemungkinan aksen bisa berubah karena saya terbiasa mendengar orang-orang sekitar, dan secara nggak sadar, saya “menirukan” aksen itu, meski mungkin nggak sempurna kali yah. Ditambah lagi, karena di UK saya belajar linguistik, saya jadi lebih paham soal bahasa, sehingga bisa memperbaiki aspek pengucapan saya yang saya rasa kurang. Selain itu, aktor-aktor film Barat yang bisa mengubah aksen dengan sempurna melalui latihan juga merupakan bukti bahwa aksen bisa diubah, lho.

Kembali ke pertanyaan awal: Apakah aksen itu penting? Menurut saya tidak untuk yang baru belajar bahasa Inggris. Lebih baik fokus ke hal-hal lain seperti kosakata, pronunciation, dan grammar, karena dengan hal tersebut, meski dengan aksen yang tidak ala-ala native, kita masih dapat dimengerti lawan bicara kita. Aksen hanya akan membuat para pemula terintimidasi karena tekanan untuk menjadi seperti “native speaker“. Tentu saja, kalau kita mau menggunakan aksen British atau American tidak apa-apa (karena bahasa Inggris saya sendiri cukup dipengaruhi oleh British English), tapi sebaiknya aksen itu di”pelajari” setelah kita memiliki penguasaan yang cukup pada grammar, vocabulary, dan pronunciation, karena, yah, berdasarkan pengalaman saya, aksen bisa diubah/berubah seiring waktu. Tetapi, kembali lagi, bukannya tujuan belajar bahasa Inggris yang paling penting adalah kita bisa dipahami lawan bicara kita, dan tidak serta merta soal aksen saja?

Baca juga:
Beda Kuliah di Universitas Inggris dan di Indonesia
6 Kesalahan Penggunaan Bahasa Inggris yang Sering Terjadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *