Perpustakaan Universitas

Cara Ampuh Kuliah di Luar Negeri Tanpa Beasiswa

Posted by

Kita tahu bahwa mendapatkan beasiswa ke luar negeri itu susah-susah gampang. Sudah prosesnya panjang dan sulit, belum tentu berhasil pula. Ada juga yang sudah mencoba berulang kali, namun belum juga berhasil. Tentu saja saya tidak menyarankan untuk menyerah karena saya percaya bahwa semua usaha pasti ada hasilnya. Tapi, sebenarnya, ada banyak cara untuk dapat kuliah di luar negeri tanpa beasiswa. Berikut ini saya akan share beberapa cara yang dapat dipertimbangkan. Saya tidak memasukkan “hutang” dan “biaya orangtua” di daftar ini ya, karena saya yakin pasti semua sudah tahu, hehehe.

1. Pilih negara yang bersahabat untuk mahasiswa internasional

Terdapat beberapa negara di Asia yang biaya hidup dan kuliahnya tidak berbeda jauh dengan Indonesia, misalnya Thailand dan Malaysia. Ditambah lagi, Malaysia bekerjasama dengan berbagai universitas di luar negeri, contohnya Australia, yang bertaraf internasional, sehingga kualitasnya pun tidak usah diragukan. Biaya hidup di Malaysia/Thailand tidak jauh berbeda, yaitu  6 juta per bulan (tergantung kebutuhan pribadi masing-masing tentunya), dan biaya kuliahnya sekitar 60 juta per tahun. Jadi, bila tabungan Anda cukup, Anda bisa mempertimbangkan untuk menempuh pendidikan di sana.

Jika Anda menginginkan suasana yang berbeda di Eropa, Anda dapat menyasar negara Jerman, karena kuliah di sebagian besar universitas negeri negara tersebut gratis; mungkin ada biaya administrasi, namun kecil jumlahnya. Selain Jerman, Norwegia juga menggratiskan biaya kuliah mahasiswa internasional. Biaya hidup di negara-negara Eropa memang jauh lebih tinggi daripada di Indonesia, tetapi bisa disiasati dengan menabung dan bekerja paruh waktu saat kuliah tentunya.

Selain itu, ada juga negara yang bersedia menggaji kita saat kita kuliah di universitas negara tersebut: Swedia contohnya. Posisi S3 di Swedia kebanyakan diiklankan seperti pekerjaan. Jadi, apabila diterima, universitas akan memberikan uang bulanan dan uang pedidikan.  Asyik, kan?

Baca juga:

Info S3 di Swedia (versi Bahasa Inggris)

10 Negara dengan Biaya Kuliah Rendah

2. Kuliah sambil bekerja

Kuliah sambil kerja tentu akan meringankan biaya hidup dan biaya kuliah. Tetapi, manajemen waktu untuk bekerja dan studi harus diatur sebaik-baiknya supaya tidak keteteran.  Selain itu, sebelum memutuskan untuk berkuliah di luar negeri, sebaiknya cari tahu dulu apakah negara tersebut memungkinkan kita untuk bekerja dengan status pelajar.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri, saat kuliah di Inggris, visa saya mengijinkan saya untuk bekerja selama 20 jam saat periode kuliah dan 40 jam saat liburan. Di negara tersebut, gaji minimum per jam-nya adalah GBP 7.70 untuk pelajar di atas 21 tahun. Jadi, apabila kita bekerja 20 jam, dalam seminggu, kita sudah bisa menghasilkan GBP 154.  Namun hal itu tidak saya lakukan karena saya takut keteteran, dan beasiswa saya sudah cukup untuk mendukung pengeluaran saya saat itu.

Salah seorang yang berhasil menggunakan cara ini adalah  Herlina Wahyuni. Meski berasal dari keluarga kurang mampu, dia berhasil berkuliah di Canada tanpa beasiswa selepas SMA. Dia menempuh pendidikan di Arbutus College, Vancouver, British Colombia dengan jurusan Honour Co-op Diploma Of Hospitality Management. Selama kuliah, dia bekerja di sebuah hotel di sana.

Baca juga: Kisah Herlina Wahyuni Merantau ke Canada

3. Cari donasi dari yayasan amal atau perseorangan

Barangkali, yang terlintas di benak Anda saat saya menyarankan langkah ini adalah “Apa? Minta-minta? Kok nggak etis?” Di sini, saya bermaksud memberi info bahwa ada juga badan perseorangan/yayasan yang menyediakan sejumlah donasi di bidang pendidikan untuk mereka yang memenuhi syarat. Tentu saja, nilai dari donasi ini mungkin tidak bisa mencakup seluruh biaya kuliah dan hidup di luar negeri, karena uang donasi ini sebagian besar “hanya” mendukung sepersekian dari total biaya yang kita butuhkan. Tetapi, asal tidak melanggar aturan badan pemberi donasi tersebut, sangat memungkinkan untuk mendapatkan bantuan dari banyak yayasan/perseorangan sehingga kita bisa kuliah dengan kumpulan donasi yang kita dapatkan.

Contoh nyata seseorang yang berhasil menempuh cara ini adalah Dr. Luke Blaxill dari Inggris. Meski sudah ditolak beasiswa berkali-kali, beliau berhasil mengumpulkan dana lebih dari 40000 GBP dari 45 penyedia donasi yang berbeda untuk S3 nya di bidang Political History di King’s College London, Inggris.

Baca juga: Kisah Luke Blaxill Mendapatkan Dana S3 (Versi Bahasa Inggris)

Ada cara yang lebih “ekstrim” lagi, yaitu donasi dari crowdfunding, yang berarti kita meminta dari situs penyedia bantuan donasi seperti Kitabisa.com. Mungkin bagi beberapa orang, cara seperti ini tidaklah etis. Contohnya saja, beberapa saat yang lalu, seorang gadis bernama Novi menggunakan cara ini untuk dapat kuliah di Turki, namun akhirnya menuai banyak kritikan oleh netizen. Namun, kritikan itu datang karena netizen merasa alasan dia berkuliah di sana tidak cukup meyakinkan. Saya percaya bahwa jika kita memiliki rencana studi yang jelas dan kontribusi yang bermanfaat untuk negara kita, akan ada banyak pihak yang rela mendonasikan sejumlah uangnya untuk studi kita di luar negeri melalui crowdfunding.  

4. Kerja dulu, baru kuliah

Mungkin cara ini terdengar terlalu mainstream karena, pada dasarnya, bila kita bekerja dan memperoleh cukup uang, kita akan dapat memenuhi impian kita, dan bisa jadi salah satunya adalah untuk dapat kuliah di luar negeri. Tetapi, banyak yang merasa bahwa mengandalkan gaji pekerjaan di Indonesia saja tidak cukup untuk membiayai kuliah dan hidup di luar negeri yang mahal sekali (termasuk saya, hehehe) karena akan memakan waktu yang cukup lama.

Tetapi, saya yakin bahwa ada juga cara supaya kita bisa menghasilkan uang dalam waktu yang relatif lebih cepat; misalnya, berbisnis, atau bekerja di luar negeri. Faktanya, meski belum populer di Indonesia, banyak mahasiswa asing yang mengambil gap year atau ”waktu rehat“, biasanya setelah SMA dan sebelum kuliah S1 (tapi bisa juga setelah lulus S1 dan sebelum S2). Dan saya rasa, gap year ini cukup bermanfaat karena selain kita mendapatkan uang, kita juga dapat memperoleh pengalaman dari dunia kerja, yang tentunya sulit didapatkan saat kita kuliah di kelas.

Baca juga: Manfaat Gap Year

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *