kuliah di Inggris

Beda Kuliah di Universitas Inggris dan di Indonesia

Posted by

Di artikel kali ini, saya ingin sharing bedanya berkuliah di universitas Inggris dan di Indonesia. Menurut pengalaman saya, bedanya cukup jauh, sehingga kalau kita tidak mengenal sistem perkuliahan di Inggris sebelum kuliah di sana, kita bisa jadi akan kaget.

Dituntut lebih mandiri

Saya merasakan S1 di sebuah universitas swasta di Indonesia, sedangkan S2 saya, saya tempuh di Inggris, dan saat S1, saya merasa sebagian besar dosen cukup mengayomi saya dan teman-teman lainnya (alias rajin mengingatkan apabila kita belum mengerjakan tugas dan selalu membantu dengan segala cara supaya hahaha). Jika di Indonesia, dosen akan “mengejar-ngejar” mahasiswa, tidak demikian di Inggris. Saat saya kuliah di Inggris, sayalah yang harus proaktif bertanya dengan dosen apabila saya belum paham materinya. Selain itu, dosen juga tidak akan banyak menegur mahasiswa bila tugas tidak dikerjakan. Intinya, semua terserah ke mahasiswa tersebut.

Reading list yang banyak

Saat saya kuliah S1 dulu, dosen cenderung banyak memberikan handout atau rangkuman materi yang sudah berisi poin-poin pentingnya, sehingga mahasiswa dapat langsung belajar dengan praktisnya. Asumsi saya, mahasiswa Indonesia cenderung tidak suka membaca, dan memang terbukti kan, bahwa Indonesia memiliki tingkat membaca yang cukup rendah dibandingkan dengan negara-negara lain? Sementara itu, di Inggris, pada tiap pertemuan, dosen akan memberikan daftar bacaan yang wajib dibaca dari berbagai jurnal ilmiah, dan tentunya kita sebagai mahasiswa di sana harus sudah membacanya sebelum kelas dimulai, atau kita tidak akan paham isi kuliah di kelas.

Waktu kuliah yang lebih singkat

Maksud saya dengan waktu disini adalah waktu keseluruhan untuk menempuh pendidikan di Inggris. Rata-rata S1 di Inggris ditempuh dalam 3 tahun, S2 “hanya” memerlukan 1 tahun saja, belum lagi S3 nya bisa juga dilalui dalam waktu 3 tahun juga. Sementara itu, di Indonesia, paling cepat S1 ditempuh dalam 3,5 tahun, dan S2 memerlukan waktu 2 tahun, dan S3 4 tahun. Kalau kita bandingkan, sepertinya lebih enak di Inggris ya? Tapi jangan salah. Waktu yang singkat bukan berarti kita bisa nyaman-nyaman saja tidur lho. Saya akan ceritakan lebih lanjut pengalaman ini di artikel berikutnya ya.

Baca juga: Rincian Biaya Kuliah di Inggris

Mahasiswa boleh (atau harus) kritis

Di Indonesia, saya merasa bahwa masih ada dosen yang tidak ingin mahasiswanya ngeyelan atau berbeda pendapat. Beberapa dosen (tidak semua ya) akan tersinggung bila mahasiswa mengkritisi pendapat beliau, dan bahkan ada yang tidak segan memberikan nilai rendah karena hal ini. Namun, di Inggris, dosen justru memperbolehkan atau malah mengharuskan mahasiswanya untuk berpikir kritis atas pendapat dosen. Dosen juga tidak akan sungkan mengakui apabila beliau ternyata kurang tepat dan mahasiswanya memberikan koreksi, karena dosen kan juga manusia, hehehe. Tapi ingat, kritis bukan berarti sembarang mendebat, ya. Yang dimaksud dengan kritis adalah memberikan pendapat yang disertai dengan landasan yang kuat (misalnya bukti ilmiah).

Lebih sadar plagiarisme

Hal yang saya sadari saat kuliah di Inggris adalah mereka memberikan zero tolerance terhadap plagiarisme atau copy paste karya oranglain atau diri sendiri tanpa mencantumkan sumber aslinya. Saat kita mengumpulkan tugas, tugas tersebut akan di-scan menggunakan sebuah aplikasi anti-plagiarisme bernama Turnitin, sehingga apabila ketahuan, kita akan disidang dan terancam gagal mata kuliah tersebut. Nah, masalahnya, definisi plagiarisme ini cukup kompleks, sehingga tidak semua orang benar-benar sadar apa yang termasuk plagiasi. Di Inggris, kita selalu ditekankan mengenai arti dan apa saja yang bisa dikategorikan plagiarisme, sehingga mahasiswa sangat berhati-hati. Beda halnya di Indonesia, saya rasa masih banyak yang tidak tahu apa itu plagiarisme sehingga masih ada mahasiswa yang langsung copy-paste tugas (sengaja maupun tidak) dari sumber milik orang lain.

Baca juga:
Universitas Luar Negeri Terbaik: Cara Agar Diterima, Lengkap Dengan Contoh
Cara Ampuh Kuliah di Luar Negeri Tanpa Beasiswa
Gagal LPDP ke Luar Negeri? Banyak Beasiswa Lain!

Demikian sharing kali ini. Saya rasa apa yang saya alami tidak bisa digeneralisasikan 100persen, namun ini bisa dijadikan sebuah gambaran mengenai bagaimana rasanya menempuh pendidikan di Inggris. Kesimpulannya, semua ada plus dan minusnya kan? Semoga artikel ini bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *