Beasiswa dan Pendidikan

Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Luar Negeri

Beasiswa Unggulan Kemendikbud

(Catatan: Tulisan ini adalah tulisan yang saya buat di blog lama saya, yaitu mariacsamodra.blogspot.com, pada tanggal 7 Agustus 2016. Blog tersebut sudah tidak lagi saya update.)

Sampai saat ini, aku tidak menyangka bahwa aku adalah salah seorang awardee Beasiswa Unggulan Kemendikbud.  Ya, aku lulus seleksi beasiswa yang akan membawaku berkuliah di The University of Sheffield, United Kindgom. Meraih beasiswa ke luar negeri adalah impianku sejak SMP. Jujur saja, perjalananku untuk menempuh beasiswa tidaklah mulus. Sudah banyak essay yang kubuat dan berkali-kali pula aku bolak-balik kantor dosen demi surat rekomendasi. Aku telah mencoba sebanyak 4 kali beasiswa dari universitas maupun beasiwa pemerintah (LPDP). Hasilnya, aku gagal pada seleksi wawancara atau “hanya” mendapat beasiswa parsial dari universitas sebelum akhirnya aku berhasil mendapatkan pendanaan penuh pada percobaan ke-5 melalui Beasiswa Unggulan Kemendikbud. Aku sangat bahagia mengingat bahwa ternyata perjuangan panjangku selama 1 tahun untuk memperoleh beasiswa tidak sia-sia. 

Dengan waktu kuliah di Sheffield yang semakin mendekat (26 September 2016) dan beasiswa yang belum kudapat untuk menutup semua biaya lanjut studi, Beasiswa Unggulan menjadi harapan terakhirku. Modal sementara yang aku punya hanya beasiswa parsial yang aku dapatkan dari Universitas Sheffield. Aku sempat putus asa, karena aku tidak ingin memberatkan orangtua dengan biaya kuliah di UK yang seharga sebuah rumah. Tapi mereka sangat mendukungku untuk kuliah di luar negeri. Aku pun tidak ingin menyerah dan mencoba apply beasiswa tersebut. Aku melengkapi formulir online, meng-upload sertifikat prestasi, dan membuat proposal studi.  Dosen pembimbing yang sudah berkali-kali memberiku surat rekomendasi pun kuhubungi kembali untuk tujuan yang sama. Beliau sangat baik hati dan bersedia membuat surat rekomendasi lagi untukku. Setelah semua dokumen lengkap dan berkas-berkas terkumpul secara online, aku pun harap-harap cemas menunggu untuk pengumuman seleksi administrasi.

Aku lulus seleksi administrasi BU dan diperbolehkan mengikuti seleksi wawancara, yang bertempat di Jakarta. Wawancaraku dimulai pukul 16.00. Aku masuk ke sebuah ruang wawancara yang besar; di dalam ruang itu ternyata ada banyak wawancara BU yang sedang berlangsung. Aku mendekati meja wawancaraku dan pewawancaraku adalah seorang ibu dosen psikolog dari Univeritas Indonesia. Beliau memperkenalkan diri dalam Bahasa Indonesia, namun selanjutnya hanya Bahasa Inggris yang digunakan dalam wawancaraku. Pertanyaan yang muncul dalam wawancara adalah hal-hal umum, seperti: ceritakan mengenai diri Anda, mengapa memilih negara UK, mengapa memilih program studi tersebut, dan rencana studi. Berbekal pengalaman melamar beasiswa di masa lalu, aku mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang. Beliau kemudian bertanya, “Apakah Anda juga melamar beasiswa lainnya?” Aku pun menceritakan semua (ya, beliau memintaku menceritakan semua) pengalamanku yang sudah 5x mendaftar seleksi beasiswa, termasuk LPDP. Mendengar cerita kegagalanku pada seleksi LPDP dan alasanku gagal, beliau mengkungkapkan bahwa beliau juga adalah seorang reviewer LPDP. Aku cukup terkejut mengetahui hal itu (mengingat aku gagal di wawancara LPDP, takut gagal lagi di wawancara BU), namun aku tetap berusaha menjawab semua pertanyaan beliau dengan baik. Aku sempat hampir menangis saat beliau bertanya, “Apakah orangtuamu mendukungmu?” Aku teringat bagaimana mereka berusaha dan melakukan banyak hal untukku. Aku tidak mungkin bisa membalas kebaikan dan jasa mereka. Aku menguatkan diri untuk tidak menangis dan menjawab “ya” disertai penjelasannya. Sebelum aku meninggalkan tempat wawancara, beliau berkata, “Good luck with your future plan.”

Selesai sudah wawancara yang berlangsung kurang lebih 30 menit. Meskipun lega karena tidak terasa menegangkan dibandingkan dengan pengalaman yang lalu, aku juga merasa pesimis dan berpikir, “Bagaimana kalau tadi jawabanku tadi tidak meyakinkan?” dan sejenisnya. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan pasrah, karena pada akhirnya yang terbaiklah yang akan terjadi. Setelah wawancara, dokumen-dokumen asli yang kugunakan saat melamar beasiswa diverifikasi. Hari Senin, 1 Agustus 2016 adalah hari pengumuman. Pagi hari, siang hari, sore hari pun berlalu dan tidak ada pengumuman melalui e-mail yang masuk. Aku cemas namun aku berusaha mengalihkan kecemasanku dengan bermain games di komputer. Sekitar pukul 8.15 malam, aku kembali membuka e-mailku dan ada sebuah surat masuk dari BU. Nyaliku ciut untuk membukanya dan aku malah bilang “Ah, paling juga tidak lulus lagi,” ke orangtuaku. Aku membuka e-mail tersebut dan..Puji Tuhan! Aku benar-benar tidak percaya bahwa kali ini e-mail yang aku dapatkan adalah mengenai kelulusanku, bukan kegagalan atau penolakan lagi. Aku menangis bahagia dan bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikanku anugerah terindah di saat-saat terakhir, di saat aku merasa bahwa harapan itu tidak ada.

Mendapatkan Beasiswa Unggulan Kemendikbud Luar Negeri
Ini adalah e-mail yang menyatakan bahwa saya lulus seleksi wawancara Beasiswa Unggulan luar negeri

Dari situ, aku belajar bahwa aku dapat meraih impianku asal aku terus berusaha dan tidak menyerah. Ternyata Tuhan tidak meninggalkanku dan mengabulkan doaku meski aku memiliki banyak kekurangan dan telah mengalami banyak kepahitan. Perjuanganku tentu tidak sampai disini karena banyak sekali persiapan yang harus dilakukan.

Aku harap aku tidak mengecewakan-Nya dan semua orang yang telah mendukungku.

Share this:
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *