Beasiswa dan Pendidikan

Plagiarisme Bikin Nggak Lulus Kuliah

plagiarisme adalah

“Semua orang pernah melakukan plagiarisme.” Percaya nggak kalau pernyataan itu benar? Saya sih percaya; bahkan saya sendiri pernah kok, hehehe. Misalnya saja, saat saya sekolah dulu, saya pernah diam-diam nyontek teman! Emang nyontek termasuk plagiat? Iya dong! Sebenarnya plagiat itu nggak cuma ada dalam lingkup pendidikan saja, namun juga banyak sekali kasus plagiarisme di luar bidang pendidikan. Contohnya saja, ada beberapa sinetron Indonesia yang bahasa halusnya “terinspirasi dari drama negara lain” tapi nggak ijin dengan pihak drama luar negeri yang bersangkutan. Karena itu, ada baiknya kita paham betul apa yang dimaksud dengan plagiarisme, dampaknya, dan cara menghindari plagiarisme.

Jenis-Jenis Plagiarisme yang Umum Terjadi

Sekali lagi, ini adalah jenis yang cukup sering terjadi. Sebenarnya, masih banyak tipe yang lainnya, tapi yang saya bahas adalah beberapa yang banyak dialami kita semua.

1 Plagiarisme Langsung (Direct Plagiarism)

Seperti namanya, tipe plagiarisme ini adalah saat seseorang meng-copy dan paste seluruh atau sebagian karya orang lain tanpa ada pengubahan kata-katanya, dan mengakuinya sebagai milik sendiri. Karya orang lain tersebut bisa dari mana pun sumbernya, contoh: internet, buku, majalah, atau tugasnya teman (ups). Sebenarnya, kalau ada yang memplagiasi seperti ini, akan mudah sekali ketahuan karena banyak sekali software/aplikasi yang bisa mendeteksi “kejahatan” ini.

2 Plagiarisme Tambal Sulam (Mosaic Plagiarism)

Tipe plagiarisme seperti ini sebenarnya cukup sulit untuk dideteksi. Hal ini disebabkan karena bagian yang diambil dari sumbernya diubah menggunakan kata-kata sendiri tanpa mencantumkan sumbernya. Contohnya saja, siswa A mengambill sebagian ide dari artikel di majalah B dan koran C, kemudian menggabungkan semua ide itu dengan kalimat-kalimatnya sendiri dan mengakuinya sebagai miliknya.

3 Plagiarisme Diri Sendiri (Self-Plagiarism)

Memangnya kita bisa melakukan plagiasi terhadap diri sendiri? Oh, tentu bisa! Hal ini terjadi ketika seseorang mengumpulkan karya masa lalu dan menggunakannya untuk keperluan lain di masa sekarang/mendatang. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, namun sebenarnya tidak disengaja, dan jujur, itu membuat saya agak tertohok karena saya (dibilang) plagiat. Saya pernah mengumpulkan draft naskah untuk sebuah jurnal ilmiah, dan ternyata panitia jurnal ilmiah tersebut menolak mentah-mentah naskah saya dengan alasan saya 99% plagiat berdasarkan mesin pendeteksi plagiarisme yang digunakan. Yang saya tidak terima saat itu adalah dari pihak panitia sama sekali tidak menanyakan apapun ke saya mengenai masalah ini (padahal saya mengenal dia secara pribadi) dan langsung menulis e-mail mengenai penolakan tersebut. Karena nggak terima, meski nggak dimintai penjelasan, saya lalu menjelaskan bahwa naskah itu adalah essay saya sendiri yang saya buat untuk tugas kuliah saya saat menempuh pendidikan di Inggris. Dulu, bahkan dosen saya sendiri yang bilang bahwa tidak apa-apa mengumpulkan essay sendiri ke jurnal ilmiah. Membaca e-mail penjelasan saya, pihak panitia untungnya membalasnya; dia bilang saya seharusnya mencantumkan keterangan bahwa naskah itu adalah bagian dari tugas mata kuliah saya. Duh, sedihnya dibilang plagiat “hanya” karena saya nggak mencantumkan keterangan tersebut di draft naskahnya. Malah jadi curcol, kan!

4 Nggak Sengaja Plagiarisme (Accidental Plagiarism)

Plagiarisme bisa terjadi baik disengaja maupun tidak–saya saja tidak sengaja melakukan ini! Tipe plagiarisme ini terjadi ketika seseorang tidak tahu atau tidak paham caranya mengutip atau mencantumkan sumber dalam sebuah karya. Kemungkinan yang terjadi adalah orang tersebut salah mencantumkan sumber, salah kutip, atau tidak mencantumkan sumbernya sama sekali. Sengaja maupun tidak, akan sama-sama berdampak buruk!

Dampak Buruk Plagiarisme

Yang jelas, bila seseorang ketahuan melakukan plagiarisme, orang tersebut dapat turun kredibilitasnya, nggak peduli apa status dia, mahasiswa, dosen, atau yang lainnya. Saat saya berkuliah di Inggris dulu, saya jadi paham konsekuensi plagiarisme ini sangat berat karena mahasiswa bahkan bisa dikeluarkan dari universitas karena hal ini. Nah, teman saya sendiri malah pernah mengalami kasus ini, padahal dia nggak sengaja. Saat mengumpulkan essay untuk mata kuliah A, dia memiliki sebuah paragraf yang sama persis dengan essay dia untuk mata kuliah B. Apesnya, dia lupa mencantumkan sumbernya (yaitu dia sendiri). Akibatnya, dia nyaris nggak lulus mata kuliah tersebut dan disidang oleh dosen mata kuliah dan kaprodi. Untungnya, karena memang kasus itu nggak sengaja, dia boleh mengumpulkan ulang essaynya, namun nilai maksimal hanya di ambang batas minimum kelulusan. Begitulah beratnya konsekuensi plagiarisme di Inggris. Di Indonesia, kira-kira baik untuk diterapkan nggak ya, sistem seperti itu?

Baca juga:
Beda Kuliah di Inggris dan Indonesia
Cara Kuliah di Luar Negeri Tanpa Beasiswa

Cara Mencegah Plagiarisme

Pelajari Cara Pengutipan yang Tepat dan Selalu Cantumkan Sumber

Bila kita memproduksi suatu karya dan karya tersebut melibatkan sumber-sumber lain, jangan lupa mengutip sumber tersebut dengan tepat. Untuk karya ilmiah dan dokumen resmi, ada pedomannya kok; yang paling sering digunakan yaitu format APA dan MLA. Apa pula itu? Silakan dipelajari saja di pedoman penulisan sumber ini ya.

Mengecek Plagiarisme Online

Jaman sekarang, kita sangat dimudahkan dengan aplikasi cek plagiat gratis yang banyak tersedia di internet, yang bisa membantu kita kalau-kalau kita kurang teliti dalam menulis sebuah karya (alias nggak sengaja plagiat). Saya pribadi memakai aplikasi bernama smallseotools selama berkuliah di Inggris dulu, dan saya aman-aman saja kok dengan gratisan ini. Cara menggunakannya? Saya hanya perlu meng-copy dan paste karya saya ke aplikasi itu, dan karya saya tersebut akan ter-scan tingkat originalitasnya. Ada sih, aplikasi pendeteksi plagiarisme yang paling ampuh, yaitu Turnitin, yang dipakai oleh hampir semua universitas. Namun, tentunya kita harus membayar untuk berlangganan aplikasi tersebut.

Jadi, apakah plagiarisme adalah kejahatan? Silakan berkomentar 🙂

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *